Rabu, 13 April 2016

Psikologi Agama


Samsul Rizal S.Th.I
 
Psikologi Agama-II                                                               
1.      Perbedaan antara psikologi Islam dan psikologi Islami ?
a.       Psikologi Islam adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa manusia agama Islam, kaidah-kaidah Islam dan segi sosial Islam. Seperti perbedaan-perbedaan pada syariah, pertentangan-pertentangan sejarah dan lebih fokus pada ilmu psikologi bukan pada ajaran Islamnya. Dan dapat dipelejari oleh berbagai golongan. Psikologi Islam dipandang sebagai cara pandang, pola berfikir atau sistem pendekatan dalam menkaji psikologi. Psikologi Islam merupakan suatu keutuhan cara berfikir dalam memahami universalitas ajaran Islam di tinjau dari sudut pandang psikologis atau kajian/studi Islam yang berhubungan dengan aspek-aspek perilaku kejiwaan manusia, agar secara sadar ia dapat membentuk kualitas diri yang lebih sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[1]
b.      Psikologi Islami adalah suatu ilmu kejiwaan yang berdasarkan ajaran agama Islam, lebih menitik berakatkan ke Islamnya bukan ke ilmu psikologi. Psikologi Islam merupakan konsep psikologi modern yang didalamnya terdapat wawasan Islam. Ilmu ini juga membicarakan tentang manusia, terutama masalah kepribadian manusia yang bersifat filsafat, teori, metodelogi dan pendekatan problem dengan didasari sumber-sumber formal Islam (al-Qur’an dan Hadist), akal, indera dan ilustrasi dan lebih cenderung dibaca oleh sesama muslem.
2.              2. Jelaskan konsep manusia menurut 4 mazhab ?
a.       Psikologi analisis, manusia adalah homo valens, yakni makhluk yang dikendalikan oleh alam bawah sadarnya, makhluk yang sakit mental, memiliki insting hewani. Menurut teori ini perilaku manusia merupakan hasil interaksi dari tiga pilar id, ego, super ego, yakni komponen biologis, psikologis dan sosial.
b.      Psikologi beheviorestik, manusia adalah homo mechanicus (mesin/robot). Manusia ini dapat dibentuk/dilatih. Menurut teori ini perilaku manusia bukan dikendalikan oleh faktor dalam alam bawah sadar tetapi sepenuhnya dipengaruhi oleh lingkungan yang nampak, terukur, dapat diramal dan dapat dilukiskan. Manusia tidak dipersoalkan apakah baik atau tidak, tetapi ia sangat plastis, bisa dibentuk menjadi apa dan siapa sesuai dengan lingkungan yang dialami atau yang dipersiapkan untuknya.
c.       Psikologi humanistik, manusia adalah makhluk homo ludens, memandang manusia sebagai eksistensi yang positif dan menentukan. Manusia adalah makhluk yang unik, memiliki cinta, krestifitas, nilai dan makna serta pertumbuhan pribadi. Manusia yang mengerti makna kehidupan.
d.      Psikologi transpersonal, manusia adalah makhluk spiritual. Pakar ahli psikologi Barat memandang bahwa manusia adalah makhluk spiritual yang memahami jiwa sebagai alat untuk mengatur segala tindakan melalui proses pemikiran. Mereka memandang otak sebagai hal yang dapat menyelesaikan masalah dan dapat dibentuk sesuai dengan keinginan sendiri. Jiwa itu proses otak material. Pakar ahli psikologi Timur manusia adalah makhluk spiritual, yang menyakini bahwa jiwa dan raga sebagai pemberian Allah, jiwa/roh itu bersifat immaterial.[2]
Menurut John Davis, psikologi transpersonal bisa diartikan sebagai ilmu yang menghubungkan psikologi dengan spiritualitas. Psikologi transpersonal merupakan salah satu bidang psikologi yang mengintegrasikan konsep, teori dan metode psikologi dengan kekayaan-kekayaan spiritual dari bermacam-macam budaya dan agama. Konsep inti dari psikologi transpersonal adalah nondualitas (nonduality), suatu pengetahuan bahwa tiap-tiap bagian (misal: tiap-tiap manusia) adalah bagian dari keseluruhan alam semesta. Penyatuan kosmis dimana segala-galanya dipandang sebagai satu kesatuan. Menurut Maslow pengalaman keagamaan. psikologi belum sempurna sebelum memfokuskan kembali dalam pandangan spiritual dan transpersonal. Psikologi transpersonal lebih menitikberatkan pada aspek-aspek spiritual atau transcendental diri manusia.[3]
3.      Bandingkan keunggulan mazhab psikologi dan konsep manusia dalam Islam?
 Islam memandang manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki keunikan dan keistimewaan tertentu, sebagai salah satu makhluk-Nya, karakteristik eksistensi manusia harus dicari dalam relasi dengan Sang pencipta dan makhluk-makhluk Tuhan lainnya, yaitu: antara hubungan manusia dengan Sang Pencipta, dengan beribadah kepada-Nya atau menjadi ingkar dan syirik kepada-Nya.[4] Manusia menurut terminologi al-Qur’an dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, manusia disebut “al-basyar” berdasarkan pendekatan aspek biologisnya, manusia dilihat sebagai makhluk biologis yang memiliki dorongan primer (makan, minum, hubungan seksual), sedangkan dilihat dari fungsi dan potensi yang dimilikinya. Manusia disebut “al- Insan” konsep ini menggambarkan fungsi manusia sebagai penyandang khalifah Allah yang dikaitkan dengan proses penciptaan dan pertumbuhan serta perkembangannya. Konsep ini juga menunjukkan potensi yang dimiliki manusia seperti untuk mengembangkan Ilmu, menggambarkan sifat-sifat dan tanggung jawab manusia seperti lupa, khilaf, tergesa-gesa, suka membantah, kikir dan tidak bersyukur. Namun kepada-Nya tanggung jawab untuk berbuat baik dan  manusia juga untuk menggambarkan aspek spiritual yang dimilikinya. Manusia disebut “an-nas” yang umumnya dilihat dari sudut pandang hubungan sosial yang dilakukannya, selain sebagai  makhluk sosial, manusia juga dibebankan tanggung jawab sosial, baik dalam bentuk ungkapan sosial yang paling kecil (keluarga) maupun yang lebih besar seperti masyarakat, eknis dan bangsa, dalam bentuk pengertian umum al-Qur’an menyebut manusia sebagai “Bani Adam” konsep ini untuk menggambarkan nilai-nilai universal perbedaan jenis kelamin, ras, suku bangsa ataupun aliran kepercayaan masing-masing. Konsep ini menggambarkan tentang kesamaan dari persamaan manusia yang tampak lebih ditekankan pada aspek fisik.[5]
 Sebagaimana diketahui bahwa setiap mazhab itu memiliki kegunggulan dan kekurangan tersendiri yang bersesuaian dengan pandangannya masing-masing. Keempat mazhab itu menjelaskan tentang manusia dengan cara yang berbeda-beda seperti yang telah dijelaskan pada jawaban di atas. Keempat mazhab itu melihat manusia sebagai makhluk yang dapat dipamami berdasarkan psikisnya, realitas yang terjadi dalam dunia nyata. Mereka tidak menyakini sesuatu hal yang di luar pemikirannya bahkan salah satu mazhab tersebut menyakatan bahwa manusia dapat menentukan segalanya atau manusia mengerti makna kehidupan. Jika dibandingkan keempat mazhab tersebut dengan konsep manusia dalam Islam maka akan terdapatkan perbedaan-perbedaan karena Islam tidak mengklasifikasikan manusia itu sebagai makhluk sakit mental, mesin dan manusia yang menemtukan kehidupan serta spiritual suatu proses otak material. Islam menyatakan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki keunikan dan keistimewan tertentu, seperti yang telah diuraikan di atas. Tokoh psikologi Timur mengartikan jiwa/roh bersifat immaterial. Penulis merujuk kepada sebuah pendapat Al-Grazali tentang Qalbu. Qalbu memiliki dua arti yaitu fisik dan metafisik, qalbu dalam arti fisik adalah jantung yang berupa segumpal daging berbentuk lonjong, sedangkan dalam arti metafisik dinyatakan sebagai karunia Tuhan yang halus bersifat ruhaniah dan ketuhanan yang mempunyai hubungan dengan jantung. Qalbu yang halus dan indah inilah hakikat kemanusiaan yang mengenal dan mengetahui segalanya, serta menjadi sasaran perintah, cela, hukuman dan tuntutan Tuhan.


[1] Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam (jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), 7.
[2] Abdurrahman Sholeh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam (Jakarta: Kencana 2004), 54.
[3] Jalaluddin Rakhmat dalam Danah Zohar, SQ – Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Hidup ( Jakarta: Mizan, 2000).
[4] Djamaluddin Ancok, Integrasi psikologi dengan Islam (Yogyakarta: Yayasan Insan Kamil, Pustaka pelajar, 1995), 54.
[5] Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), 50.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar