Samsul Rizal S.Th.I
Psikologi
Agama-II
1. Perbedaan
antara psikologi Islam dan psikologi Islami ?
a. Psikologi
Islam adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa manusia agama Islam,
kaidah-kaidah Islam dan segi sosial Islam. Seperti perbedaan-perbedaan pada
syariah, pertentangan-pertentangan sejarah dan lebih fokus pada ilmu psikologi
bukan pada ajaran Islamnya. Dan dapat dipelejari oleh berbagai golongan. Psikologi
Islam dipandang sebagai cara pandang, pola berfikir atau sistem pendekatan
dalam menkaji psikologi. Psikologi Islam merupakan suatu keutuhan cara berfikir
dalam memahami universalitas ajaran Islam di tinjau dari sudut pandang
psikologis atau kajian/studi Islam yang berhubungan dengan aspek-aspek perilaku
kejiwaan manusia, agar secara sadar ia dapat membentuk kualitas diri yang lebih
sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[1]
b. Psikologi
Islami adalah suatu ilmu kejiwaan yang berdasarkan ajaran agama Islam, lebih
menitik berakatkan ke Islamnya bukan ke ilmu psikologi. Psikologi Islam
merupakan konsep psikologi modern yang didalamnya terdapat wawasan Islam. Ilmu
ini juga membicarakan tentang manusia, terutama masalah kepribadian manusia
yang bersifat filsafat, teori, metodelogi dan pendekatan problem dengan
didasari sumber-sumber formal Islam (al-Qur’an dan Hadist), akal, indera dan
ilustrasi dan lebih cenderung dibaca oleh sesama muslem.
2.
2. Jelaskan konsep manusia
menurut 4 mazhab ?
a. Psikologi
analisis, manusia adalah homo valens, yakni makhluk yang dikendalikan oleh alam
bawah sadarnya, makhluk yang sakit mental, memiliki insting hewani. Menurut
teori ini perilaku manusia merupakan hasil interaksi dari tiga pilar id, ego,
super ego, yakni komponen biologis, psikologis dan sosial.
b. Psikologi
beheviorestik, manusia adalah homo mechanicus (mesin/robot). Manusia ini dapat
dibentuk/dilatih. Menurut teori ini perilaku manusia bukan dikendalikan oleh
faktor dalam alam bawah sadar tetapi sepenuhnya dipengaruhi oleh lingkungan
yang nampak, terukur, dapat diramal dan dapat dilukiskan. Manusia tidak
dipersoalkan apakah baik atau tidak, tetapi ia sangat plastis, bisa dibentuk
menjadi apa dan siapa sesuai dengan lingkungan yang dialami atau yang
dipersiapkan untuknya.
c. Psikologi
humanistik, manusia adalah makhluk homo ludens, memandang manusia sebagai
eksistensi yang positif dan menentukan. Manusia adalah makhluk yang unik,
memiliki cinta, krestifitas, nilai dan makna serta pertumbuhan pribadi. Manusia
yang mengerti makna kehidupan.
d. Psikologi
transpersonal, manusia adalah makhluk spiritual. Pakar ahli psikologi Barat
memandang bahwa manusia adalah makhluk spiritual yang memahami jiwa sebagai
alat untuk mengatur segala tindakan melalui proses pemikiran. Mereka memandang
otak sebagai hal yang dapat menyelesaikan masalah dan dapat dibentuk sesuai
dengan keinginan sendiri. Jiwa itu proses otak material. Pakar ahli psikologi
Timur manusia adalah makhluk spiritual, yang menyakini bahwa jiwa dan raga
sebagai pemberian Allah, jiwa/roh itu bersifat immaterial.[2]
Menurut John Davis, psikologi transpersonal bisa
diartikan sebagai ilmu yang menghubungkan psikologi dengan spiritualitas.
Psikologi transpersonal merupakan salah satu bidang psikologi yang
mengintegrasikan konsep, teori dan metode psikologi dengan kekayaan-kekayaan
spiritual dari bermacam-macam budaya dan agama. Konsep inti dari psikologi
transpersonal adalah nondualitas (nonduality),
suatu pengetahuan bahwa tiap-tiap bagian (misal: tiap-tiap manusia) adalah
bagian dari keseluruhan alam semesta. Penyatuan kosmis dimana segala-galanya
dipandang sebagai satu kesatuan. Menurut Maslow pengalaman keagamaan. psikologi
belum sempurna sebelum memfokuskan kembali dalam pandangan spiritual dan
transpersonal. Psikologi transpersonal lebih menitikberatkan pada aspek-aspek
spiritual atau transcendental diri manusia.[3]
3.
Bandingkan keunggulan
mazhab psikologi dan konsep manusia dalam Islam?
Islam memandang manusia sebagai makhluk Tuhan
yang memiliki keunikan dan keistimewaan tertentu, sebagai salah satu
makhluk-Nya, karakteristik eksistensi manusia harus dicari dalam relasi dengan
Sang pencipta dan makhluk-makhluk Tuhan lainnya, yaitu: antara hubungan manusia
dengan Sang Pencipta, dengan beribadah kepada-Nya atau menjadi ingkar dan
syirik kepada-Nya.[4]
Manusia menurut terminologi al-Qur’an dapat dilihat dari berbagai sudut
pandang, manusia disebut “al-basyar”
berdasarkan pendekatan aspek biologisnya, manusia dilihat sebagai makhluk
biologis yang memiliki dorongan primer (makan, minum, hubungan seksual),
sedangkan dilihat dari fungsi dan potensi yang dimilikinya. Manusia disebut “al- Insan” konsep ini menggambarkan
fungsi manusia sebagai penyandang khalifah Allah yang dikaitkan dengan proses
penciptaan dan pertumbuhan serta perkembangannya. Konsep ini juga menunjukkan
potensi yang dimiliki manusia seperti untuk mengembangkan Ilmu, menggambarkan
sifat-sifat dan tanggung jawab manusia seperti lupa, khilaf, tergesa-gesa, suka
membantah, kikir dan tidak bersyukur. Namun kepada-Nya tanggung jawab untuk
berbuat baik dan manusia juga untuk
menggambarkan aspek spiritual yang dimilikinya. Manusia disebut “an-nas” yang umumnya dilihat dari sudut
pandang hubungan sosial yang dilakukannya, selain sebagai makhluk sosial, manusia juga dibebankan
tanggung jawab sosial, baik dalam bentuk ungkapan sosial yang paling kecil
(keluarga) maupun yang lebih besar seperti masyarakat, eknis dan bangsa, dalam
bentuk pengertian umum al-Qur’an menyebut manusia sebagai “Bani Adam” konsep ini untuk menggambarkan nilai-nilai universal
perbedaan jenis kelamin, ras, suku bangsa ataupun aliran kepercayaan
masing-masing. Konsep ini menggambarkan tentang kesamaan dari persamaan manusia
yang tampak lebih ditekankan pada aspek fisik.[5]
Sebagaimana diketahui bahwa setiap mazhab itu
memiliki kegunggulan dan kekurangan tersendiri yang bersesuaian dengan
pandangannya masing-masing. Keempat mazhab itu menjelaskan tentang manusia
dengan cara yang berbeda-beda seperti yang telah dijelaskan pada jawaban di
atas. Keempat mazhab itu melihat manusia sebagai makhluk yang dapat dipamami
berdasarkan psikisnya, realitas yang terjadi dalam dunia nyata. Mereka tidak
menyakini sesuatu hal yang di luar pemikirannya bahkan salah satu mazhab
tersebut menyakatan bahwa manusia dapat menentukan segalanya atau manusia
mengerti makna kehidupan. Jika dibandingkan keempat mazhab tersebut dengan
konsep manusia dalam Islam maka akan terdapatkan perbedaan-perbedaan karena
Islam tidak mengklasifikasikan manusia itu sebagai makhluk sakit mental, mesin
dan manusia yang menemtukan kehidupan serta spiritual suatu proses otak
material. Islam menyatakan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki
keunikan dan keistimewan tertentu, seperti yang telah diuraikan di atas. Tokoh
psikologi Timur mengartikan jiwa/roh bersifat immaterial. Penulis merujuk
kepada sebuah pendapat Al-Grazali tentang Qalbu. Qalbu memiliki dua arti yaitu
fisik dan metafisik, qalbu dalam arti fisik adalah jantung yang berupa segumpal
daging berbentuk lonjong, sedangkan dalam arti metafisik dinyatakan sebagai
karunia Tuhan yang halus bersifat ruhaniah dan ketuhanan yang mempunyai
hubungan dengan jantung. Qalbu yang halus dan indah inilah hakikat kemanusiaan
yang mengenal dan mengetahui segalanya, serta menjadi sasaran perintah, cela,
hukuman dan tuntutan Tuhan.
[1] Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam
(jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), 7.
[2] Abdurrahman Sholeh dan
Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu
Pengantar Dalam Perspektif Islam
(Jakarta: Kencana 2004), 54.
[3] Jalaluddin
Rakhmat dalam Danah Zohar, SQ – Memanfaatkan
Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai
Hidup ( Jakarta: Mizan,
2000).
[4] Djamaluddin Ancok, Integrasi psikologi dengan Islam
(Yogyakarta: Yayasan Insan Kamil, Pustaka pelajar, 1995), 54.
[5] Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2004), 50.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar