Rabu, 22 Juni 2016

Kesungguhan



Kesungguhan Dan Kesuksesan
Kesungguhan merupakan suatu insting yang telah ada dalam diri manusia semenjak ia lahir dan diimpelentasikan  dalam kehidupan sehari-hari baik secara individu  maupun kelompok untuk mendapatkan suatu keberuntungan (kesuksesan).
 Orang boleh pandai setinggi langit, tapi jika ia tak menulis Ilmu yang dia miliki maka ia akan hilang di dalam apapun. Tentang siapapun. Kami tak ingin disebut sebagai orang yang hilang dari kehidupan. Atau kehidupan yang tak mengakui keberadaan kami. Nah, Kami ingin bicara tentang “Kesungguhan”. Dulu, ketika kami belajar di suatu pengajian dekat rumah, seorang guru pernah bercerita tentang Pulan (nama anonim) yang ingin mendapatkan mutiara. Si pulan, kata guruku, dia hanya hafal sebuah hadits yang Artinya :
siapapun yang bersungguh-sungguh, pasti akan mendapatkan hasil.  
Hadits ini  menjadi satu-satunya pegangan hidup si pulan. Pulan selalu berdoa agar Tuhan YME  memberikan sebuah mutiara padanya. Entah untuk apa, guru kami tak menceritakan. Yang jelas, si Pulan akhirnya sadar bahwa dia tak cukup hanya berdoa dan berharap tuhan memberikan mutiara begitu saja padanya. Akhirnya, si pulan punya ide gila (setidaknya menurut saya saat ini). Dia kan datang ke pantai dan menguras air laut sampai laut kering sehingga dia dapat mengambil mutiara dengan mudah. Di suatu pagi, Pulan datang ke pantai dengan membawa sebuah gayung. Lalu memulai usahanya dengan mengayuh gayung untuk menguras air laut. Di sela-sela kayuhan pulan, pulan terus membacakan hadits yang ia hafal itu.
Man tholaba syaian jiddan fa wajadahu. lalu mengayuh. man tholaba syaian jiddan fa wajadahu. Lalu mengayuh. man tholaba syaian jiddan fa wajadahu. Lalu mengayuh. Begitulah seterusnya. Ceritanya, kelakuan si pulan itu ternyata mengguncang seantero penduduk laut. Para penunggu laut kemudian mendatangi Pulan seraya berkata “hai, Pulan, what are you doing?” begitu kira-kira kalau diinggriskan.
“Saya tidak mau apa-apa, saya hanya ingin mutiara.”
“Oh Cuma itu?”
“Iya,” ucap pulan dengan wajah sedih
Waduh gitu aja kok repot, ntar saya kasih. Tapi berhenti ya?
Ok siap.
Akhirnya  Pulan pun mendapatkan mutiara yang dia inginkan. Setiap kesungguhan pasti menemui hasil. Sekecil apapun. Sejelek apapun. Dan selalu ada keberuntungan. Kesungguhan dan keberuntungan adalah seiring dan sejalan. Anda mau beruntung? Marilah berusaha dulu. Karena kesungguhan (usaha) merupakan suatu awal daripada kesuksesan. Dalam pepatah Arab mengatakan man jadda wa jada, (barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan mendapat kan nya), Pepatah Indonesia juga menyatakan Hemat pangkal kaya, Rajin pangkal pandai, Maka dengan demikian kita juga bisa menyatakan sebuah kesimpulan bahwasannya orang yang bersungguh-sungguh itu pasti akan mendapat sebuah keberuntungan atau keberhasilan.
Nah, dengan ada nya kesungguhan dalam diri seseorang maka dengan tersirat sudah tentu dalam diri seseorang itu di awali dengan niat, karena niat juga merupakan sebuah pendorong yang utama untuk menuju kesungguhan, dan dengan niat kita bisa membedakan antara perbuatan/amal yang satu dengan yang lain nya. sabda Rasulullah Saw tentang niat yang artinya :
Dari Umar ra berkata, bahwasannya Rasulullah Saw bersabda, sesungguh nya perbuatan/amal itu tergantung kepadaniat nya, dan sesungguhnya orang akan memperoleh apa yang di niatkan nya, karena itu barang siapa  yang hijrah karena Allah dan Rasul maka hijrah nya itu kepada Allah dan Rasul nya, dan barang siapa yang hijrah nya karena perkara dunia ia akan memperoleh nya dan barang siapa yang hijrah karena searang perempuan yang dia nikahi maka hijrah nya itu untuk kepentingan diri nya sendiri.  (H.R Bukhari dan Muslim)
Dalam hadist ini terdapat beberapa contoh yang di lakukan seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan dengan niat yang berbeda-beda dan usaha berbeda-beda. Jadi dengan beberapa contoh tersebut kita juga dapat mengambil sebuah kesimpulan yaitu sesungguh nya sah atau sempurnanya semua Amal perbuatan itu tergantung kepada niat nya masing-masing, karena kita akan mendapatkan sesuatu yang kita inginkan  sesuai dengan apa yang telah kita niat kan dan sesuai dengan kesungguhan (usaha) yang kita lakukan. Maka janganlah kita bermalas-malas dalam mencapai suatu cita-cita yang telah kita inginkan, apabila kita malas sungguh apa yang kita ingikan itu tidak akan kita dapatkan, karena kesuksesaan itu perlu adanya kesungguhan atau perlu adanya suatu usaha yang sesusai dengan apa yang kita inginkan. Allah berfirman dalam Al-qur’an  yang Artinya :
 Apabila engkau telah selesai dari suatu urusan maka tetaplah bekerja keras untuk  urusan yang lain nya.[1]
Jadi dengan firman Allah SWT ini kita dapat memahami bahwa kita diseru untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan sesuatu, karena tampa ada nya usaha atau kesungguhan maka jangan berharap menjadi orang yang pandai dan ahli dalam sesuatu hal karena itu merupakan suatu kegilaan, Namun apabila kita bersungguh-sungguh maka janganlah ragu apa saja yang kita inginkan pasti akan kita dapatkan dengan kata lain kesungguhan akan membuka pintu yang terkunci, kesungguhan juga akan mendekatkan apa yang jauh, karena dengan kesungguhan/usaha kita akan mendapat apa yang kita inginkan.
Dalam ayat tersebut  kita juga dapat memahami bahwasannya Allah melarang kepada umat nya untuk bermalas-malasan karena malas itu merupakan suatu kehancuran atau setengah dari kegagalan, dan malas tersebut juga hal yang tidak disenangi oleh Allah dan Rasul nya. Karena  Allah pertama sekali menyeru kepada umat manusia untuk  menuntut ilmu. firman-Nya dalam Al-qur’an yang artinya :
1.Bacalah dengan menyebut nama Tuhan mu yang menciptakan.
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.Bacalah dan Tuhanmu lah yang maha mulia.
4. Yang mengajarkan manusia dengan pena.
5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidk diketahuinya. [2]
Kami juga teringat bahwasannya pemikiran seorang tokoh filsafat Islam yaitu Ibnu maskawaih dalam bidang filsafat membedakan antara pengertian hikmah dengan filsafat, hikmah menurutnya adalah keutamaan jiwa yang cerdas yang mampu membeda-bedakan. Maksudnya adalah bahwa engkau mengetahui segala yang ada sebagai adanya. Sedangkan filsafat ia tidak memberikan pengertian secara tegas. Ibnu Maskawaih membagi filsafat kepada dua bagian yaitu teori dan praktis. Bagian teori merupakan kesempurnaan manusia yang mengisi potensinya untuk mengetahui segala sesuatu, sehingga dengan kesempurnaan ilmu-nya itu pemikirannya benar, keyakinan banar dan tidak ragu-ragu terhadap kebenaran, sedangkan bagian praktis merupakan kesempurnaan manusia yang mengisi potensinya untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan, moral, kesempurnaan moral dimulai dengan kemampuan mengatur potensi-potensi rasionalnya yang dapat membeda-bedakan hal yang benar dan salah, yang baik dan buruk, hingga perbuatan-perbuatan itu benar-benar teratur sebagaimana mestinya. Akhir dari kesempurnaan moral seperti yang tersebut di atas, akan dapat mengatur hubungan antar manusia hingga tercipta kebahagiaan hidup bersama, bila manusia berhasil memiliki dua kebahagiaan filsafat, yaitu bagian teoritis dan bagian  praktis, maka berarti manusia telah memperoleh suatu kebahagiaan yang sempurna. [3]
Jadi dengan demikian kita dapat menyimpulkan Allah menginginkan umat-Nya agar menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, karena dengan kesungguhan itu akan mendapatkan kesuksesan.Begitu juga  dalam  pemikiran ibnu maskawaih. yakni,  mengandung unsur kesungguhan/usaha, karena Ibnu maskawai mengatakan manusia akan memperoleh suatu kebahagian yang sempurna apabila dalam diri nya itu mengandung dua unsur filsafat, yaitu filsafat teori dan praktis. Dengan adanya dua unsur filsafat ini kita dapat membedakan yang baik dengan yang buruk dan yang benar dengan yang salah.
Hanya inilah yang dapat kami sampaikan mudah-mudahan menjadi suatu konsep bagi kita dalam kehidupan di dunia ini. Apabila ada kesalahan dan kekurangan kami mohan maaf dengan mengangkat  dua tanggan  di atas kepala,  agar saudara-saudara kami sekalian sudi untuk memaafkan kami,  itu merupakan kebodohan kami sendiri dan godaan Syaitan yang terkutuk. Dan apabila ada kata-kata kami yang bermanfaat maka marilah kita amalkan dalam kehidupan di dunia ini.. Dan hanya kepada Allahlah tempat kita berharap dan memohon Ampunan. Aamiinn 
Akhirul kalam  wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


[1] .Qs. Al-Insyirah ayat  7
[2]  Qs.  Al-Alaq ayat 1-5
[3] Mustafa, Filsafat Islam, Bandung, 1997, hal. 170

Rabu, 13 April 2016

SIKAP PENGGUNA JALAN RAYA



 SIKAP PENGGUNA JALAN RAYA
Pada hari minggu saya keliling Kota Banda Aceh yang kita cintai dan dikenal dengan sebutan Seuramoe Mekkah, pada hari itu saya mengendrai sepeda motor bersama kawan-kawan di  jalan raya. Saya melihat di simpang jambo tape ada nya salah satu aturan untuk  menggunakan jalan raya yaitu traffic light, dan ada juga di beberapa tempat lainnya, traffic light merupakan lambang peraturan berlalu lintas. Di traffic light itu terdapat tiga lampu yaitu merah, kuning, hijau. Merah merupakan lambang untuk berhenti, kuning berjaga-jaga dan hijau untuk lambang bisa melewati jalan raya tersebut.
Jadi pada saat itu saya melihat ada yang mematuhi dan ada juga yang tidak mematuhi peraturan tersebut. Orang-orang yang mematuhi  peraturan yang telah di tetapkan oleh pemerintah dalam UU berlalu lintas maka mereka telah mencerminkan orang-orang berakhlak mulia. Rasulullah Saw senang terhadap orang-orang yang mematuhi peraturan-peraturan yang di tetapkan pemerintah yang  tidak bertentangan dengan Al-qur’an dan Hadist. Orang-orang yang berakhlak mulia akan menunggu sampai lampu hijau nyala yang merupakan lambang untuk kita melewati bersama-sama, tampa ada suara klakson ataupun suara lain nya...sip x nheeeeeeeee..nyaman lhoooooooo....!!
Sedangkang orang-orang yang tidak mematuhi peraturan tersebut merupakan orang-orang yang berakhlak tercela karena meraka tidak menyadari apa yang akan terjadi terhadap yang di lakukan nya. Seperti  yang ditahui bersama dan saya melihat dengan mata kepala pada waktu itu di simpang jambo tape  Sungguh sangat banyak pemuda-pemudi yang melanggar perturan lalu lintas di bandingkan orang-orang dewasa dan orang tua. Meraka masih berdarah panas dan tidak ada kesabaran serta kesadaran dalam diri mereka, maka sangat banyak hal-hal yang fatal terjadi di dalam berlalu lintas baik di simpang jambo tape maupun di tempat yang lainnya.seperti kemacetan, trabrakan, suara klakson gak sanggup di dengar, bahkan ada yang troma dan syokk gara-gara klakson tersebut. Sehingga ada yang terburu-buru dalam mengtransfer gigi kereta maupun mobil dan ada yang tak sengaja menekan gas dengan kencang sehingga terjadilah trabrakan dan ada yang jatuh sendiri karena kaget melihat suasana pada tempat tersebut.eeeeeeeeemmmmmmmmmm sayang yaeeeeeeeeeeee..!!!!!!!!!
Simpang jambo tape sebagai sampel bagi saya, di sini saya melihat apabila tidak ada polisi sebagai penjaga/penegak peraturan tersebut maka mereka melawati jalan raya tampa mematuhi peraturan lalu lintas jadi mereka tidak melihat trafik light apakah lampu hijau atau bukan mereka tetap melintasi jalan tersebut, dengan demikian terjadilah kemacetan dan tabrakan. Walapun demikian masih sangat banyak orang-orang yang tidak mematuhi peraturan berlalu lintas karena barang kali telah ditutup hati nya oleh Allah SWT serta dalam diri mereka tidak ada rasa menghargai dan menghormati antara satu sama lain baik antara sesama agama maupun sesama beragama.
Nah. Dengan demikian, dapat katakan Akhlak merupakan suatu karakter yang terdapat pada diri/jiwa seseorang serta dapat dilihat pada sikap, tingkah laku, dan kepribadiannya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan Lalu lintas merupakan sebuah peraturan yang berlaku dan di sepakati oleh pemerintah dalam Negara Indonesia serta Negara lainnya untuk menciptakan kemakmuran dalam menggunakan jalan raya. lho..lho... kok kita lupa ya..?? padahal untuk kemakmuran dan keteraturan dalam lalu lintas serta untuk keselelamatan. Maka dengan pernyataan di atas marilah  sama-sama menaati dan mematuhi peraturan-peraturan tersebut demi keselamatan bersama Dan marilah  semua untuk saling menghargai serta menghortmati dengan cara tertanamnya rasa kesabaran dan kesadaran pada diri sendiri. Okey ..okey...siiiippppppp dheeeehhhhhhhhhhh.

Prakata


Dan seandainya pohon-pohon dibumi menjadi pena
Dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya Tujuh laut(bumi)
sesudah (keringnya), niscaya Tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q. S. Lukman ayat 27)

Dengan cinta, hidup kita jadi gairah,
Dengan Ilmu,, hidup kita jadi mudah dan Dengan iman, hidup kita jadi terarah.
Alhamdulillah,,, Segala puji bagi Allah SWT, dengan segala ketulusan hati Kupersembahkan karya tulis ini kehadapan yang mulia tercinta atas perjuangan dan pengorbanan membuat hidupku penuh arti.

Ayahanda tercinta Syafruddin (Alm), Tetesan darahmu yang slalu mengalir dalam
tubuh ini merupakan kasih sayang tampa noda yang engkau tinggalkan untuk anakmu yang terakhir ini.
Ibunda tercinta Surdian, Tetesan keringat dan do’a yang engkau berikan Merupakan
permata yang tak ternilai harganya. Petualimu adalah pelita yang selalu menerangi jalanku Dorongan hidup yang selalu engkau berikan kepada  ananda Menjadi cambuk yang mendera
Ananda untuk berhasil menggapai cita-cita kecilku.

Keluargaku adalah kebanggaanku (Love familly), terimalah kalimat Terimakasih adik kecilmu ini Wahai Kakakku Muliani (Alm), abangku (Azhar-Erna wati, S. Pd. I), abangku
(Hadian Syahputra-Lani Ribowo) dan kakaku (Erna Dewi-Samsul Bahri(ALM)
Serta keponakanku (deni, depi (Alm), harif, azrina, Asyraf, agus, nazwa, munira, akmal)
Yang telah banyak membantu dalam setiap langkah demi keberhasilanku.
Terimakasih kepada pendampingku yang slalu meluangkan waktunya untuk menyelesaikan karya tulis ini. “berkasih-sayanglah pesan kedua orang tua”

Kini daku hanya mampu berdoa, bersyukur dan tafakur Kepadamu Ya Rabbi,
Sembah Sujudku  hanya kepada-Mu, semoga hari esok yang membentang didepanku bersama rahmat dan ridha-Mu Ya Allah. Semga Ilmu ini bermanfaat di sepanjang kehidupanku.

Samsul Rizal, S. Th. I   /  28-08-2015

Psikologi Agama


Samsul Rizal S.Th.I
 
Psikologi Agama-II                                                               
1.      Perbedaan antara psikologi Islam dan psikologi Islami ?
a.       Psikologi Islam adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa manusia agama Islam, kaidah-kaidah Islam dan segi sosial Islam. Seperti perbedaan-perbedaan pada syariah, pertentangan-pertentangan sejarah dan lebih fokus pada ilmu psikologi bukan pada ajaran Islamnya. Dan dapat dipelejari oleh berbagai golongan. Psikologi Islam dipandang sebagai cara pandang, pola berfikir atau sistem pendekatan dalam menkaji psikologi. Psikologi Islam merupakan suatu keutuhan cara berfikir dalam memahami universalitas ajaran Islam di tinjau dari sudut pandang psikologis atau kajian/studi Islam yang berhubungan dengan aspek-aspek perilaku kejiwaan manusia, agar secara sadar ia dapat membentuk kualitas diri yang lebih sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[1]
b.      Psikologi Islami adalah suatu ilmu kejiwaan yang berdasarkan ajaran agama Islam, lebih menitik berakatkan ke Islamnya bukan ke ilmu psikologi. Psikologi Islam merupakan konsep psikologi modern yang didalamnya terdapat wawasan Islam. Ilmu ini juga membicarakan tentang manusia, terutama masalah kepribadian manusia yang bersifat filsafat, teori, metodelogi dan pendekatan problem dengan didasari sumber-sumber formal Islam (al-Qur’an dan Hadist), akal, indera dan ilustrasi dan lebih cenderung dibaca oleh sesama muslem.
2.              2. Jelaskan konsep manusia menurut 4 mazhab ?
a.       Psikologi analisis, manusia adalah homo valens, yakni makhluk yang dikendalikan oleh alam bawah sadarnya, makhluk yang sakit mental, memiliki insting hewani. Menurut teori ini perilaku manusia merupakan hasil interaksi dari tiga pilar id, ego, super ego, yakni komponen biologis, psikologis dan sosial.
b.      Psikologi beheviorestik, manusia adalah homo mechanicus (mesin/robot). Manusia ini dapat dibentuk/dilatih. Menurut teori ini perilaku manusia bukan dikendalikan oleh faktor dalam alam bawah sadar tetapi sepenuhnya dipengaruhi oleh lingkungan yang nampak, terukur, dapat diramal dan dapat dilukiskan. Manusia tidak dipersoalkan apakah baik atau tidak, tetapi ia sangat plastis, bisa dibentuk menjadi apa dan siapa sesuai dengan lingkungan yang dialami atau yang dipersiapkan untuknya.
c.       Psikologi humanistik, manusia adalah makhluk homo ludens, memandang manusia sebagai eksistensi yang positif dan menentukan. Manusia adalah makhluk yang unik, memiliki cinta, krestifitas, nilai dan makna serta pertumbuhan pribadi. Manusia yang mengerti makna kehidupan.
d.      Psikologi transpersonal, manusia adalah makhluk spiritual. Pakar ahli psikologi Barat memandang bahwa manusia adalah makhluk spiritual yang memahami jiwa sebagai alat untuk mengatur segala tindakan melalui proses pemikiran. Mereka memandang otak sebagai hal yang dapat menyelesaikan masalah dan dapat dibentuk sesuai dengan keinginan sendiri. Jiwa itu proses otak material. Pakar ahli psikologi Timur manusia adalah makhluk spiritual, yang menyakini bahwa jiwa dan raga sebagai pemberian Allah, jiwa/roh itu bersifat immaterial.[2]
Menurut John Davis, psikologi transpersonal bisa diartikan sebagai ilmu yang menghubungkan psikologi dengan spiritualitas. Psikologi transpersonal merupakan salah satu bidang psikologi yang mengintegrasikan konsep, teori dan metode psikologi dengan kekayaan-kekayaan spiritual dari bermacam-macam budaya dan agama. Konsep inti dari psikologi transpersonal adalah nondualitas (nonduality), suatu pengetahuan bahwa tiap-tiap bagian (misal: tiap-tiap manusia) adalah bagian dari keseluruhan alam semesta. Penyatuan kosmis dimana segala-galanya dipandang sebagai satu kesatuan. Menurut Maslow pengalaman keagamaan. psikologi belum sempurna sebelum memfokuskan kembali dalam pandangan spiritual dan transpersonal. Psikologi transpersonal lebih menitikberatkan pada aspek-aspek spiritual atau transcendental diri manusia.[3]
3.      Bandingkan keunggulan mazhab psikologi dan konsep manusia dalam Islam?
 Islam memandang manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki keunikan dan keistimewaan tertentu, sebagai salah satu makhluk-Nya, karakteristik eksistensi manusia harus dicari dalam relasi dengan Sang pencipta dan makhluk-makhluk Tuhan lainnya, yaitu: antara hubungan manusia dengan Sang Pencipta, dengan beribadah kepada-Nya atau menjadi ingkar dan syirik kepada-Nya.[4] Manusia menurut terminologi al-Qur’an dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, manusia disebut “al-basyar” berdasarkan pendekatan aspek biologisnya, manusia dilihat sebagai makhluk biologis yang memiliki dorongan primer (makan, minum, hubungan seksual), sedangkan dilihat dari fungsi dan potensi yang dimilikinya. Manusia disebut “al- Insan” konsep ini menggambarkan fungsi manusia sebagai penyandang khalifah Allah yang dikaitkan dengan proses penciptaan dan pertumbuhan serta perkembangannya. Konsep ini juga menunjukkan potensi yang dimiliki manusia seperti untuk mengembangkan Ilmu, menggambarkan sifat-sifat dan tanggung jawab manusia seperti lupa, khilaf, tergesa-gesa, suka membantah, kikir dan tidak bersyukur. Namun kepada-Nya tanggung jawab untuk berbuat baik dan  manusia juga untuk menggambarkan aspek spiritual yang dimilikinya. Manusia disebut “an-nas” yang umumnya dilihat dari sudut pandang hubungan sosial yang dilakukannya, selain sebagai  makhluk sosial, manusia juga dibebankan tanggung jawab sosial, baik dalam bentuk ungkapan sosial yang paling kecil (keluarga) maupun yang lebih besar seperti masyarakat, eknis dan bangsa, dalam bentuk pengertian umum al-Qur’an menyebut manusia sebagai “Bani Adam” konsep ini untuk menggambarkan nilai-nilai universal perbedaan jenis kelamin, ras, suku bangsa ataupun aliran kepercayaan masing-masing. Konsep ini menggambarkan tentang kesamaan dari persamaan manusia yang tampak lebih ditekankan pada aspek fisik.[5]
 Sebagaimana diketahui bahwa setiap mazhab itu memiliki kegunggulan dan kekurangan tersendiri yang bersesuaian dengan pandangannya masing-masing. Keempat mazhab itu menjelaskan tentang manusia dengan cara yang berbeda-beda seperti yang telah dijelaskan pada jawaban di atas. Keempat mazhab itu melihat manusia sebagai makhluk yang dapat dipamami berdasarkan psikisnya, realitas yang terjadi dalam dunia nyata. Mereka tidak menyakini sesuatu hal yang di luar pemikirannya bahkan salah satu mazhab tersebut menyakatan bahwa manusia dapat menentukan segalanya atau manusia mengerti makna kehidupan. Jika dibandingkan keempat mazhab tersebut dengan konsep manusia dalam Islam maka akan terdapatkan perbedaan-perbedaan karena Islam tidak mengklasifikasikan manusia itu sebagai makhluk sakit mental, mesin dan manusia yang menemtukan kehidupan serta spiritual suatu proses otak material. Islam menyatakan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki keunikan dan keistimewan tertentu, seperti yang telah diuraikan di atas. Tokoh psikologi Timur mengartikan jiwa/roh bersifat immaterial. Penulis merujuk kepada sebuah pendapat Al-Grazali tentang Qalbu. Qalbu memiliki dua arti yaitu fisik dan metafisik, qalbu dalam arti fisik adalah jantung yang berupa segumpal daging berbentuk lonjong, sedangkan dalam arti metafisik dinyatakan sebagai karunia Tuhan yang halus bersifat ruhaniah dan ketuhanan yang mempunyai hubungan dengan jantung. Qalbu yang halus dan indah inilah hakikat kemanusiaan yang mengenal dan mengetahui segalanya, serta menjadi sasaran perintah, cela, hukuman dan tuntutan Tuhan.


[1] Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam (jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), 7.
[2] Abdurrahman Sholeh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam (Jakarta: Kencana 2004), 54.
[3] Jalaluddin Rakhmat dalam Danah Zohar, SQ – Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Hidup ( Jakarta: Mizan, 2000).
[4] Djamaluddin Ancok, Integrasi psikologi dengan Islam (Yogyakarta: Yayasan Insan Kamil, Pustaka pelajar, 1995), 54.
[5] Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), 50.