Kesungguhan Dan Kesuksesan
Kesungguhan
merupakan suatu insting yang telah ada dalam diri manusia semenjak ia lahir dan diimpelentasikan dalam kehidupan sehari-hari baik secara individu maupun kelompok
untuk mendapatkan suatu keberuntungan (kesuksesan).
Orang boleh pandai setinggi langit, tapi jika
ia tak menulis Ilmu yang dia miliki maka ia akan hilang di dalam apapun.
Tentang siapapun. Kami tak ingin disebut sebagai orang yang hilang dari
kehidupan. Atau kehidupan yang tak mengakui keberadaan kami. Nah, Kami ingin
bicara tentang “Kesungguhan”. Dulu, ketika kami belajar di suatu pengajian
dekat rumah, seorang guru pernah bercerita tentang Pulan (nama anonim) yang ingin mendapatkan mutiara. Si pulan, kata guruku, dia hanya
hafal sebuah hadits yang Artinya :
siapapun yang
bersungguh-sungguh, pasti akan mendapatkan hasil.
Hadits
ini menjadi satu-satunya pegangan hidup
si pulan. Pulan selalu berdoa agar Tuhan YME memberikan sebuah mutiara padanya. Entah untuk
apa, guru kami tak menceritakan. Yang jelas, si Pulan akhirnya sadar bahwa dia
tak cukup hanya berdoa dan berharap tuhan memberikan mutiara begitu saja
padanya. Akhirnya, si pulan punya ide gila (setidaknya menurut saya saat ini).
Dia kan datang ke pantai dan menguras air laut sampai laut kering sehingga dia
dapat mengambil mutiara dengan mudah. Di suatu pagi, Pulan datang ke pantai
dengan membawa sebuah gayung. Lalu memulai usahanya dengan mengayuh gayung
untuk menguras air laut. Di sela-sela kayuhan pulan, pulan terus membacakan
hadits yang ia hafal itu.
Man tholaba syaian jiddan fa wajadahu. lalu mengayuh.
man tholaba syaian jiddan fa wajadahu. Lalu mengayuh. man tholaba syaian jiddan
fa wajadahu. Lalu mengayuh. Begitulah seterusnya. Ceritanya, kelakuan si pulan
itu ternyata mengguncang seantero penduduk laut. Para penunggu laut kemudian
mendatangi Pulan seraya berkata “hai, Pulan, what are you doing?” begitu
kira-kira kalau diinggriskan.
“Saya
tidak mau apa-apa, saya hanya ingin mutiara.”
“Oh Cuma itu?”
“Iya,” ucap pulan dengan wajah sedih
Waduh gitu aja kok repot, ntar saya kasih. Tapi berhenti ya?
Ok siap.
“Oh Cuma itu?”
“Iya,” ucap pulan dengan wajah sedih
Waduh gitu aja kok repot, ntar saya kasih. Tapi berhenti ya?
Ok siap.
Akhirnya Pulan
pun mendapatkan mutiara yang dia inginkan. Setiap kesungguhan pasti menemui
hasil. Sekecil apapun. Sejelek apapun. Dan selalu ada keberuntungan.
Kesungguhan dan keberuntungan adalah seiring dan sejalan. Anda mau beruntung?
Marilah berusaha dulu. Karena kesungguhan (usaha) merupakan suatu awal daripada
kesuksesan. Dalam pepatah Arab mengatakan man jadda wa jada, (barang siapa yang
bersungguh-sungguh maka dia akan mendapat kan nya), Pepatah Indonesia juga
menyatakan Hemat pangkal kaya, Rajin pangkal pandai, Maka dengan demikian kita
juga bisa menyatakan sebuah kesimpulan bahwasannya orang yang
bersungguh-sungguh itu pasti akan mendapat sebuah keberuntungan atau keberhasilan.
Nah, dengan ada nya kesungguhan dalam diri seseorang
maka dengan tersirat sudah tentu dalam diri seseorang itu di awali dengan niat,
karena niat juga merupakan sebuah pendorong yang utama untuk menuju
kesungguhan, dan dengan niat kita bisa membedakan antara perbuatan/amal yang
satu dengan yang lain nya. sabda Rasulullah Saw tentang niat yang artinya :
Dari
Umar ra berkata, bahwasannya Rasulullah Saw bersabda, sesungguh nya
perbuatan/amal itu tergantung kepadaniat nya, dan sesungguhnya orang akan
memperoleh apa yang di niatkan nya, karena itu barang siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul maka
hijrah nya itu kepada Allah dan Rasul nya, dan barang siapa yang hijrah nya
karena perkara dunia ia akan memperoleh nya dan barang siapa yang hijrah karena
searang perempuan yang dia nikahi maka hijrah nya itu untuk kepentingan diri
nya sendiri. (H.R Bukhari dan Muslim)
Dalam hadist ini terdapat beberapa contoh yang di
lakukan seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan dengan niat yang
berbeda-beda dan usaha berbeda-beda. Jadi dengan beberapa contoh tersebut kita
juga dapat mengambil sebuah kesimpulan yaitu sesungguh nya sah atau sempurnanya
semua Amal perbuatan itu tergantung kepada niat nya masing-masing, karena kita
akan mendapatkan sesuatu yang kita inginkan
sesuai dengan apa yang telah kita niat kan dan sesuai dengan kesungguhan
(usaha) yang kita lakukan. Maka janganlah kita bermalas-malas dalam mencapai
suatu cita-cita yang telah kita inginkan, apabila kita malas sungguh apa yang
kita ingikan itu tidak akan kita dapatkan, karena kesuksesaan itu perlu adanya
kesungguhan atau perlu adanya suatu usaha yang sesusai dengan apa yang kita
inginkan. Allah berfirman dalam Al-qur’an yang Artinya
:
Apabila engkau
telah selesai dari suatu urusan maka tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain nya.[1]
Jadi dengan firman Allah SWT ini kita dapat memahami
bahwa kita diseru untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan
sesuatu, karena tampa ada nya usaha atau kesungguhan maka jangan berharap
menjadi orang yang pandai dan ahli dalam sesuatu hal karena itu merupakan suatu
kegilaan, Namun apabila kita bersungguh-sungguh maka janganlah ragu apa saja
yang kita inginkan pasti akan kita dapatkan dengan kata lain kesungguhan akan
membuka pintu yang terkunci, kesungguhan juga akan mendekatkan apa yang jauh,
karena dengan kesungguhan/usaha kita akan mendapat apa yang kita inginkan.
Dalam ayat tersebut kita juga dapat memahami bahwasannya Allah
melarang kepada umat nya untuk bermalas-malasan karena malas itu merupakan
suatu kehancuran atau setengah dari kegagalan, dan malas tersebut juga hal yang
tidak disenangi oleh Allah dan Rasul nya. Karena Allah pertama sekali menyeru kepada umat
manusia untuk menuntut ilmu. firman-Nya
dalam Al-qur’an yang artinya :
1.Bacalah dengan menyebut nama Tuhan mu yang
menciptakan.
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.Bacalah dan Tuhanmu lah yang maha mulia.
4. Yang mengajarkan manusia dengan pena.
5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidk diketahuinya.
[2]
Kami
juga teringat bahwasannya pemikiran seorang tokoh filsafat Islam yaitu Ibnu
maskawaih dalam bidang
filsafat membedakan antara pengertian hikmah dengan filsafat, hikmah menurutnya
adalah keutamaan jiwa yang cerdas yang mampu membeda-bedakan. Maksudnya adalah
bahwa engkau mengetahui segala yang ada sebagai adanya. Sedangkan filsafat ia
tidak memberikan pengertian secara tegas. Ibnu Maskawaih membagi filsafat
kepada dua bagian yaitu teori dan praktis. Bagian teori merupakan kesempurnaan
manusia yang mengisi potensinya untuk mengetahui segala sesuatu, sehingga
dengan kesempurnaan ilmu-nya itu pemikirannya benar, keyakinan banar dan tidak
ragu-ragu terhadap kebenaran, sedangkan bagian praktis merupakan kesempurnaan
manusia yang mengisi potensinya untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan,
moral, kesempurnaan moral dimulai dengan kemampuan mengatur potensi-potensi
rasionalnya yang dapat membeda-bedakan hal yang benar dan salah, yang baik dan
buruk, hingga perbuatan-perbuatan itu benar-benar teratur sebagaimana mestinya.
Akhir dari kesempurnaan moral seperti yang tersebut di atas, akan dapat
mengatur hubungan antar manusia hingga tercipta kebahagiaan hidup bersama, bila
manusia berhasil memiliki dua kebahagiaan filsafat, yaitu bagian teoritis dan
bagian praktis, maka berarti manusia
telah memperoleh suatu kebahagiaan yang sempurna. [3]
Jadi dengan demikian kita dapat menyimpulkan Allah
menginginkan umat-Nya agar menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, karena dengan
kesungguhan itu akan mendapatkan kesuksesan.Begitu juga dalam pemikiran ibnu maskawaih. yakni, mengandung unsur kesungguhan/usaha, karena
Ibnu maskawai mengatakan manusia akan memperoleh suatu kebahagian yang sempurna
apabila dalam diri nya itu mengandung dua unsur filsafat, yaitu filsafat teori
dan praktis. Dengan adanya dua unsur filsafat ini kita dapat membedakan yang
baik dengan yang buruk dan yang benar dengan yang salah.
Hanya inilah yang dapat kami sampaikan mudah-mudahan
menjadi suatu konsep bagi kita dalam kehidupan di dunia ini. Apabila ada
kesalahan dan kekurangan kami mohan maaf dengan mengangkat dua tanggan
di atas kepala, agar
saudara-saudara kami sekalian sudi untuk memaafkan kami, itu merupakan kebodohan kami sendiri dan
godaan Syaitan yang terkutuk. Dan apabila ada kata-kata kami yang bermanfaat
maka marilah kita amalkan dalam kehidupan di dunia ini.. Dan hanya kepada
Allahlah tempat kita berharap dan memohon Ampunan. Aamiinn
Akhirul
kalam wasalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar