Rabu, 22 Juni 2016

Kesungguhan



Kesungguhan Dan Kesuksesan
Kesungguhan merupakan suatu insting yang telah ada dalam diri manusia semenjak ia lahir dan diimpelentasikan  dalam kehidupan sehari-hari baik secara individu  maupun kelompok untuk mendapatkan suatu keberuntungan (kesuksesan).
 Orang boleh pandai setinggi langit, tapi jika ia tak menulis Ilmu yang dia miliki maka ia akan hilang di dalam apapun. Tentang siapapun. Kami tak ingin disebut sebagai orang yang hilang dari kehidupan. Atau kehidupan yang tak mengakui keberadaan kami. Nah, Kami ingin bicara tentang “Kesungguhan”. Dulu, ketika kami belajar di suatu pengajian dekat rumah, seorang guru pernah bercerita tentang Pulan (nama anonim) yang ingin mendapatkan mutiara. Si pulan, kata guruku, dia hanya hafal sebuah hadits yang Artinya :
siapapun yang bersungguh-sungguh, pasti akan mendapatkan hasil.  
Hadits ini  menjadi satu-satunya pegangan hidup si pulan. Pulan selalu berdoa agar Tuhan YME  memberikan sebuah mutiara padanya. Entah untuk apa, guru kami tak menceritakan. Yang jelas, si Pulan akhirnya sadar bahwa dia tak cukup hanya berdoa dan berharap tuhan memberikan mutiara begitu saja padanya. Akhirnya, si pulan punya ide gila (setidaknya menurut saya saat ini). Dia kan datang ke pantai dan menguras air laut sampai laut kering sehingga dia dapat mengambil mutiara dengan mudah. Di suatu pagi, Pulan datang ke pantai dengan membawa sebuah gayung. Lalu memulai usahanya dengan mengayuh gayung untuk menguras air laut. Di sela-sela kayuhan pulan, pulan terus membacakan hadits yang ia hafal itu.
Man tholaba syaian jiddan fa wajadahu. lalu mengayuh. man tholaba syaian jiddan fa wajadahu. Lalu mengayuh. man tholaba syaian jiddan fa wajadahu. Lalu mengayuh. Begitulah seterusnya. Ceritanya, kelakuan si pulan itu ternyata mengguncang seantero penduduk laut. Para penunggu laut kemudian mendatangi Pulan seraya berkata “hai, Pulan, what are you doing?” begitu kira-kira kalau diinggriskan.
“Saya tidak mau apa-apa, saya hanya ingin mutiara.”
“Oh Cuma itu?”
“Iya,” ucap pulan dengan wajah sedih
Waduh gitu aja kok repot, ntar saya kasih. Tapi berhenti ya?
Ok siap.
Akhirnya  Pulan pun mendapatkan mutiara yang dia inginkan. Setiap kesungguhan pasti menemui hasil. Sekecil apapun. Sejelek apapun. Dan selalu ada keberuntungan. Kesungguhan dan keberuntungan adalah seiring dan sejalan. Anda mau beruntung? Marilah berusaha dulu. Karena kesungguhan (usaha) merupakan suatu awal daripada kesuksesan. Dalam pepatah Arab mengatakan man jadda wa jada, (barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan mendapat kan nya), Pepatah Indonesia juga menyatakan Hemat pangkal kaya, Rajin pangkal pandai, Maka dengan demikian kita juga bisa menyatakan sebuah kesimpulan bahwasannya orang yang bersungguh-sungguh itu pasti akan mendapat sebuah keberuntungan atau keberhasilan.
Nah, dengan ada nya kesungguhan dalam diri seseorang maka dengan tersirat sudah tentu dalam diri seseorang itu di awali dengan niat, karena niat juga merupakan sebuah pendorong yang utama untuk menuju kesungguhan, dan dengan niat kita bisa membedakan antara perbuatan/amal yang satu dengan yang lain nya. sabda Rasulullah Saw tentang niat yang artinya :
Dari Umar ra berkata, bahwasannya Rasulullah Saw bersabda, sesungguh nya perbuatan/amal itu tergantung kepadaniat nya, dan sesungguhnya orang akan memperoleh apa yang di niatkan nya, karena itu barang siapa  yang hijrah karena Allah dan Rasul maka hijrah nya itu kepada Allah dan Rasul nya, dan barang siapa yang hijrah nya karena perkara dunia ia akan memperoleh nya dan barang siapa yang hijrah karena searang perempuan yang dia nikahi maka hijrah nya itu untuk kepentingan diri nya sendiri.  (H.R Bukhari dan Muslim)
Dalam hadist ini terdapat beberapa contoh yang di lakukan seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan dengan niat yang berbeda-beda dan usaha berbeda-beda. Jadi dengan beberapa contoh tersebut kita juga dapat mengambil sebuah kesimpulan yaitu sesungguh nya sah atau sempurnanya semua Amal perbuatan itu tergantung kepada niat nya masing-masing, karena kita akan mendapatkan sesuatu yang kita inginkan  sesuai dengan apa yang telah kita niat kan dan sesuai dengan kesungguhan (usaha) yang kita lakukan. Maka janganlah kita bermalas-malas dalam mencapai suatu cita-cita yang telah kita inginkan, apabila kita malas sungguh apa yang kita ingikan itu tidak akan kita dapatkan, karena kesuksesaan itu perlu adanya kesungguhan atau perlu adanya suatu usaha yang sesusai dengan apa yang kita inginkan. Allah berfirman dalam Al-qur’an  yang Artinya :
 Apabila engkau telah selesai dari suatu urusan maka tetaplah bekerja keras untuk  urusan yang lain nya.[1]
Jadi dengan firman Allah SWT ini kita dapat memahami bahwa kita diseru untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan sesuatu, karena tampa ada nya usaha atau kesungguhan maka jangan berharap menjadi orang yang pandai dan ahli dalam sesuatu hal karena itu merupakan suatu kegilaan, Namun apabila kita bersungguh-sungguh maka janganlah ragu apa saja yang kita inginkan pasti akan kita dapatkan dengan kata lain kesungguhan akan membuka pintu yang terkunci, kesungguhan juga akan mendekatkan apa yang jauh, karena dengan kesungguhan/usaha kita akan mendapat apa yang kita inginkan.
Dalam ayat tersebut  kita juga dapat memahami bahwasannya Allah melarang kepada umat nya untuk bermalas-malasan karena malas itu merupakan suatu kehancuran atau setengah dari kegagalan, dan malas tersebut juga hal yang tidak disenangi oleh Allah dan Rasul nya. Karena  Allah pertama sekali menyeru kepada umat manusia untuk  menuntut ilmu. firman-Nya dalam Al-qur’an yang artinya :
1.Bacalah dengan menyebut nama Tuhan mu yang menciptakan.
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.Bacalah dan Tuhanmu lah yang maha mulia.
4. Yang mengajarkan manusia dengan pena.
5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidk diketahuinya. [2]
Kami juga teringat bahwasannya pemikiran seorang tokoh filsafat Islam yaitu Ibnu maskawaih dalam bidang filsafat membedakan antara pengertian hikmah dengan filsafat, hikmah menurutnya adalah keutamaan jiwa yang cerdas yang mampu membeda-bedakan. Maksudnya adalah bahwa engkau mengetahui segala yang ada sebagai adanya. Sedangkan filsafat ia tidak memberikan pengertian secara tegas. Ibnu Maskawaih membagi filsafat kepada dua bagian yaitu teori dan praktis. Bagian teori merupakan kesempurnaan manusia yang mengisi potensinya untuk mengetahui segala sesuatu, sehingga dengan kesempurnaan ilmu-nya itu pemikirannya benar, keyakinan banar dan tidak ragu-ragu terhadap kebenaran, sedangkan bagian praktis merupakan kesempurnaan manusia yang mengisi potensinya untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan, moral, kesempurnaan moral dimulai dengan kemampuan mengatur potensi-potensi rasionalnya yang dapat membeda-bedakan hal yang benar dan salah, yang baik dan buruk, hingga perbuatan-perbuatan itu benar-benar teratur sebagaimana mestinya. Akhir dari kesempurnaan moral seperti yang tersebut di atas, akan dapat mengatur hubungan antar manusia hingga tercipta kebahagiaan hidup bersama, bila manusia berhasil memiliki dua kebahagiaan filsafat, yaitu bagian teoritis dan bagian  praktis, maka berarti manusia telah memperoleh suatu kebahagiaan yang sempurna. [3]
Jadi dengan demikian kita dapat menyimpulkan Allah menginginkan umat-Nya agar menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, karena dengan kesungguhan itu akan mendapatkan kesuksesan.Begitu juga  dalam  pemikiran ibnu maskawaih. yakni,  mengandung unsur kesungguhan/usaha, karena Ibnu maskawai mengatakan manusia akan memperoleh suatu kebahagian yang sempurna apabila dalam diri nya itu mengandung dua unsur filsafat, yaitu filsafat teori dan praktis. Dengan adanya dua unsur filsafat ini kita dapat membedakan yang baik dengan yang buruk dan yang benar dengan yang salah.
Hanya inilah yang dapat kami sampaikan mudah-mudahan menjadi suatu konsep bagi kita dalam kehidupan di dunia ini. Apabila ada kesalahan dan kekurangan kami mohan maaf dengan mengangkat  dua tanggan  di atas kepala,  agar saudara-saudara kami sekalian sudi untuk memaafkan kami,  itu merupakan kebodohan kami sendiri dan godaan Syaitan yang terkutuk. Dan apabila ada kata-kata kami yang bermanfaat maka marilah kita amalkan dalam kehidupan di dunia ini.. Dan hanya kepada Allahlah tempat kita berharap dan memohon Ampunan. Aamiinn 
Akhirul kalam  wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


[1] .Qs. Al-Insyirah ayat  7
[2]  Qs.  Al-Alaq ayat 1-5
[3] Mustafa, Filsafat Islam, Bandung, 1997, hal. 170

Tidak ada komentar:

Posting Komentar